f11a4da3e827.html

df36a31bf43d
"Dukungan Allah itu jauh lebih penting dari dukungan manusia manapun. Karena hanya sedikit manusia yang bisa tegak lurus sesuai ridho-Nya sehingga dukungan manusia tersebut bisa baik. Allah sebaik-baiknya pemberi dukungan karena semesta alam pun pasti mendukung". @Fitrullah Official ( Fit4global)

Ketikkan yang ingin Anda Cari!

USDIDR and Other Currency Research (untuk Keseimbangan Sektor Riil dan Non Riil)

KEARIFAN SEJATI adalah MEDIA PENYAMPAIAN KEBENARAN SEJATI dari OLAH BANYAK MENDENGAR

Jangan terlena dengan yang ada. Kelak semua akan terjawab seiring berjalannya waktu, tentang kebenaran, tentang keadilan, dan tentang kearifan dalam hidup.
Mendengar itu ilmu yang sungguh sulit dibanding berbicara, karena mendengar membutuhkan pengendalian nafsu pembenaran diri sendiri.

Ya, benar pesan Beliau yang kuhormati nun jauh di sana tentang Mendengar. Bahwasanya mendengar adalah sebuah riset kehidupan yang harus dilalui.
Adanya perbedaan di semua lini kehidupan manusia, dengan beragam ujian masing-masing, karakter dan sifatnya, juga kehidupan yang dilaluinya masing-masing manusia, maka Mendengar adalah sebuah kata yang sungguh bermakna.

Kebenaran sejati itu memang ada, yang hanya diketahui oleh Dzat-Nya Yang Maha Tinggi.
Jikalau kebenaran sejati ini turun pada hamba-Nya yang diridhoi-Nya, maka kebenaran sejati ini akan mampu merangkul semua lini perbedaan yang ada di masyarakat, dengan cara kearifan, kebijaksanaan, dan kesabaran.

Berbicara kebenaran pun sering kandas di tengah jalan. Karena apa? karena tidak sinkron dengan kemajemukan masyarakat yang ada. Di sinilah pentingnya Mendengar.
Dengan banyak mendengar, maka akal fikir kita sebagai perantara penyampai kebenaran sejati itu akan mampu ditempatkan sesuai porsinya pada masing-masing masyarakat, sesuai kadar kesesuaiannya.
Dengan banyak mendengar, maka kita akan semakin arif dalam penyampaian kebenaran, dapat memasuki lini kisi-kisi sifat dan karakter masyarakat yang beragam.

Karena itulah pentingnya sebuah proses penyampaian, dengan kesabaran, pelan namun pasti, sesuai porsinya. Dengan demikian, maka kebenaran yang disampaikan akan mampu masuk ke segenap lini sendi-sendi kehidupan masyarakat yang beraneka ragam ini.

Meskipun kita mengetahui kebenaran sejati dari satu sisi, namun sangat penting untuk mendengar kebenaran dari sisi yang lain. Kebenaran itu bergantung dari sudut mana kita melihat, menilai, dan merasakan.
Cobalah memahami ini: " Belajarlah banyak mendengar agar kita mampu belajar arif dan dapat memberi hikmah kehidupan yang hakiki. Kurangi banyak bicara, kendalikan banyak bicara, belajarlah untuk banyak mendengar. Jika ini kau lakukan niscaya dirimu akan memahami sebuah makna arif bijaksana dalam penyampaian kebenaran. Saya dan Anda, sama-sama belajar, agar terbentuk kehidupan masyarakat yang harmonis dan saling menghargai perbedaan pendapat. Kebenaran sejati tidak akan berarti secara rahmatan lil alamin, jika penyampaian kebenaran itu bukanlah hasil dari resultan banyak mendengar, karena sesungguhnya penyampaian sebuah kebenaran sejati itu adalah melalui kearifan sejati pula. Kearifan sejati itu haruslah melalui proses banyak mendengar sehingga seseorang tersebut dapat menyampaikan sebuah kebenaran sejati ".

(Fitrullah)

Note: Gambar diambil dari, https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDP_80DYVDMwn_INMaJXQuSkN3eHBUZ0oYJh6o3Ww1NQs213i93AT46JetgWO_8yE2NKH4A7Sp4oBrjrSSpKbVJMeNqP4BMqM7_Lt5irRLsjDaMXRgjRzHsKQFE5UPbOI4VMbQYm7FBLE/s320/perception1.jpg, sebagai ilustrasi semata)

KEARIFAN SEJATI adalah MEDIA PENYAMPAIAN KEBENARAN SEJATI dari OLAH BANYAK MENDENGAR

Jangan terlena dengan yang ada. Kelak semua akan terjawab seiring berjalannya waktu, tentang kebenaran, tentang keadilan, dan tentang kearifan dalam hidup.
Mendengar itu ilmu yang sungguh sulit dibanding berbicara, karena mendengar membutuhkan pengendalian nafsu pembenaran diri sendiri.

Ya, benar pesan Beliau yang kuhormati nun jauh di sana tentang Mendengar. Bahwasanya mendengar adalah sebuah riset kehidupan yang harus dilalui.
Adanya perbedaan di semua lini kehidupan manusia, dengan beragam ujian masing-masing, karakter dan sifatnya, juga kehidupan yang dilaluinya masing-masing manusia, maka Mendengar adalah sebuah kata yang sungguh bermakna.

Kebenaran sejati itu memang ada, yang hanya diketahui oleh Dzat-Nya Yang Maha Tinggi.
Jikalau kebenaran sejati ini turun pada hamba-Nya yang diridhoi-Nya, maka kebenaran sejati ini akan mampu merangkul semua lini perbedaan yang ada di masyarakat, dengan cara kearifan, kebijaksanaan, dan kesabaran.

Berbicara kebenaran pun sering kandas di tengah jalan. Karena apa? karena tidak sinkron dengan kemajemukan masyarakat yang ada. Di sinilah pentingnya Mendengar.
Dengan banyak mendengar, maka akal fikir kita sebagai perantara penyampai kebenaran sejati itu akan mampu ditempatkan sesuai porsinya pada masing-masing masyarakat, sesuai kadar kesesuaiannya.
Dengan banyak mendengar, maka kita akan semakin arif dalam penyampaian kebenaran, dapat memasuki lini kisi-kisi sifat dan karakter masyarakat yang beragam.

Karena itulah pentingnya sebuah proses penyampaian, dengan kesabaran, pelan namun pasti, sesuai porsinya. Dengan demikian, maka kebenaran yang disampaikan akan mampu masuk ke segenap lini sendi-sendi kehidupan masyarakat yang beraneka ragam ini.

Meskipun kita mengetahui kebenaran sejati dari satu sisi, namun sangat penting untuk mendengar kebenaran dari sisi yang lain. Kebenaran itu bergantung dari sudut mana kita melihat, menilai, dan merasakan.
Cobalah memahami ini: " Belajarlah banyak mendengar agar kita mampu belajar arif dan dapat memberi hikmah kehidupan yang hakiki. Kurangi banyak bicara, kendalikan banyak bicara, belajarlah untuk banyak mendengar. Jika ini kau lakukan niscaya dirimu akan memahami sebuah makna arif bijaksana dalam penyampaian kebenaran. Saya dan Anda, sama-sama belajar, agar terbentuk kehidupan masyarakat yang harmonis dan saling menghargai perbedaan pendapat. Kebenaran sejati tidak akan berarti secara rahmatan lil alamin, jika penyampaian kebenaran itu bukanlah hasil dari resultan banyak mendengar, karena sesungguhnya penyampaian sebuah kebenaran sejati itu adalah melalui kearifan sejati pula. Kearifan sejati itu haruslah melalui proses banyak mendengar sehingga seseorang tersebut dapat menyampaikan sebuah kebenaran sejati ".

(Fitrullah)

Note: Gambar diambil dari, https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDP_80DYVDMwn_INMaJXQuSkN3eHBUZ0oYJh6o3Ww1NQs213i93AT46JetgWO_8yE2NKH4A7Sp4oBrjrSSpKbVJMeNqP4BMqM7_Lt5irRLsjDaMXRgjRzHsKQFE5UPbOI4VMbQYm7FBLE/s320/perception1.jpg, sebagai ilustrasi semata)

FASE KERUCUT

Saat itu terjadi, maka terjadilah....
saat itu terurai, maka terurailah....
tanpa kita sadari, kita memasuki fase kerucut.....
fase dimana tangis seolah menjadi kering....
fase dimana tertawa seolah tercekat.....
fase dimana Tuhan terlihat begitu Agungnya.....
fase dimana manusia bagai debu beterbangan....

Begitu panas bumi ini....
begitu dingin hati pepohonan....
begitu kencang gemuruh angin bernyanyi.....
begitu lincah air menari tiada irama....
begitu nanar mata gunung memandang....
begitu berat beban awan menggantung....

Cobalah memahami di keheningan malam,
di sepertiga malam itu.
Di sana kau akan temukan arti seluruh nyanyian alam,
dari ujung samudera hingga ujung pegunungan,
dari ujung tunas hingga ujung ranting,
dari ujung kuku hingga ujung rambut,
Rangkailah itu semua dalam irama.
sehingga mengerti kaidah alam.

Self Reminder

Merasa bisa itu penyakit...
Sedangkan meniru tanpa ilmu, itu petaka...
Sangat halus untuk mengkajinya,...
karena memang ketidaktahuan yang dibungkus nafsu halus duniawi.

Sulit menjadi total demi ridho Tuhan,
Payah lelah tiada arti.
Jika masih ada ketakutan sesuatu dunia,
itu pertanda nafsu duniawi.
Kajilah dengan bijak.

Tanyakan pada diri sendiri,
pada hati sanubari terdalam.
Masih jauh jika paham,
serasa dekat padahal jauh.
Mohon ampunlah pada Ilahi jika menyadarinya.
(fitrullah)

Tidak Perlu Meraba-raba Masa Depan Seseorang, karena Hal itu Bisa diketahui Saat ini Juga!

Satu persatu saya meriset tentang masa depan seseorang.
Hubungan kesuksesan seseorang itu dengan realita saat ini yang dilakukannya.

Sekian ribu saya memperhatikan kejadian di masyarakat, saya belajar tentang masa depan seseorang secara ilmiah, bukan ramalan semata.
Ya, jika seseorang itu masih yakin akan masa depannya atau galau akan masa depannya ataupun masih kira-kira akan masa depannya, 
KETAHUILAH DARI PENGALAMAN SAYA MELIHAT DAN MERISET KEJADIAN DI MASYARAKAT DI BERBAGAI TEMPAT YANG BERBEDA, DARI SEKIAN RIBU KEJADIAN YANG SAYA AMATI:

" BAHWASANYA SUKSES ATAU TIDAKNYA MASA DEPAN SESEORANG ITU, DAPAT DIKETAHUI PASTI DARI SIKAP PERBUATANNYA SAAT INI. 
JIKA DALAM KESEHARIANNYA, SESEORANG ITU BERSIKAP SOMBONG, TIDAK MAU MENGHORMATI, DAN TIDAK PEDULI AKAN SEKITARNYA PADA ORANG YANG MEMBUTUHKAN, TERUTAMA PADA ORANG-ORANG YANG LEBIH TUA DARIPADANYA, DAPAT DIPASTIKAN MASA DEPANNYA TIDAK AKAN PERNAH SUKSES!"


fitrullah
Global Society Care
www.fitrullah.com

Seorang Manusia terkadang Tidak Menyadari, Tidak mau berkorban atas dirinya, untuk Meninggalkan Sejenak Lingkar Kebiasaannya, menuju Ketenangan Ruhani yang Hakiki, mencoba untuk Mendekat pada Pusat Pusaran Waktu.

Dalam sebuah pusaran, tersebutlah bahwa area yang sangat labil adalah area yang semakin jauh dari pusaran.
Area yang sangat tenang dalam sebuah teori pusaran adalah area pusat pusaran.

Artinya: semakin jauh dari titik pusat pusaran, maka makin besar pula gaya gesek yang dialami partikelnya, begitu pula sebaliknya.

Jika seorang manusia berada makin jauh dari pusat pusaran, maka makin kencang gesekan yang dialaminya, makin kencang perputaran dirinya dalam melingkari pusat pusaran.

Dunia ini sangat cepat berputar. Memabukan bagi siapa saja yang berada di dalamnya. Haru dinamika dan berbagai suka duka dalam kehidupan dunia, sangatlah cepat dan bermilyar ragamnya. Sungguh cepat tak terkira.
Menurut pusaran waktu, seorang manusia hendaknya "bersedia" ketika Sang Khalik meletakkan dirinya keluar dari lingkaran terjauh dari pusaran waktu, menuju pendekatan pada pusaran waktu. Bayangkan saja sakitnya manusia, ketika dia harus keluar sejenak dari lingkaran kebiasaannya menuju lingkaran yang lebih dekat dengan pusaran waktu, yang notabene di luar lingkaran kebiasaannya.
Di saat seorang manusia "meloncat/dipaksa" oleh Sang Khalik, maka serasa enggan untuk keluar dari lingkaran kebiasaannya semula. Manusia cenderung enggan "berpisah sejenak" dari lingkaran semula. Padahal semakin menuju pusaran, makin tenang seorang manusia dalam berjalan atas waktu

Seorang manusia terkadang tidak menyadari, tidak mau berkorban atas dirinya, untuk meninggalkan sejenak lingkar kebiasaannya, menuju ketenangan ruhani yang hakiki, mencoba untuk mendekat pada pusat pusaran waktu. Takut meninggalkan kecepatan lingkar yang dilaluinya, kecepatan lingkar suksesnya, kecepatan lingkar kehidupannya.

Padahal sesungguhnya, manusia membutuhkan ketenangan ruhani yang hakiki, yang jauh dari lingkar hingar bingar kehidupan, agar kehidupan bisa selaras.
Keluar menjauh dari pusat pusaran waktu pun sangat tidak baik. Karena "eksitasi" ini dapat melempar seorang manusia dari fitrah waktunya. Meskipun energi yang dihasilkan sebesar energi atom pun, namun energi menuju pusat pusaran jauh lebih besar lagi.
Inilah pengorbanan seorang manusia dalam mempertahankan eksistensinya dalam kehidupan ini. Pengorbanan dalam mencoba mendekati pusat pusaran waktu, mencoba mencapai ketenangan dalam pusaran waktu yang luarbiasa ini.

Jika setiap manusia dapat mengikuti pola pendekatan ke arah pusat pusaran waktu, maka akan damai sentosa peri kehidupan ini. Manusia akan menyadari arti dirinya dalam kehidupan ini, dapat menyadari setiap maksud Tuhan dalam segala lini kehidupannya, sehingga menghasilkan manusia-manusia yang bijaksana dalam kehidupan.

Sesungguhnya Sang Waktu diciptakan tidaklah selain untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Pencipta, bukan untuk makin menjauh dari-Nya.

#Wallahualam

fitrullah

catatan: gambar diambil dari internet sebagai ilustrasi semata.

Sejauh Saya Memandang, hanyalah Instropeksi Diri yang Sungguh-Sungguh, yang menyebabkan seseorang itu Sembuh dari Penyakit Ganas Sekalipun.

 
(keterangan: gambar diambil dari http://the-friendkerz.blogspot.co.id, sebagai ilustrasi semata)
 
 
Tubuh manusia adalah fitrah yang baik. Unsur-unsur tubuh pun sedemikian bagusnya, saling menopang antar organ di dalamnya, mulai jantung, hati (liver), pankreas, ginjal, dan lain sebagainya.
Setiap saat berdenyut, memompa aliran baik ke segenap bagian tubuh manusia. Karena itulah manusia bisa beraktivitas dengan segala akal fikirannya selama di dunia.
Pengendali fungsi tubuh sehingga dapat terus berfungsi baik (normal) adalah pancaindera manusia sendiri, mulai mulut, kulit, mata, hidung, dan telinga, Di kelima indera inilah pintu masuk segenap unsur makanan minuman, suara, rasa, penglihatan, bau ke dalam tubuh manusia. Dan kelima indera ini dikendalikan oleh akal fikiran, nafsu, dan sanubari manusia. Akal fikiran, nafsu, dan sanubari inilah yang menjadi motor pengendali utama untuk kelima pancaindera manusia.

#Buktikan saja semisal: umbar makan minum apapun tanpa seleksi sehat atau tidak, mengabaikan rasa kenyang sekalipun, niscaya beberapa bagian tubuh kita akan merasakan tidak enak bahkan sakit saat itu atau di kemudian waktu.

#Buktikan saja semisal: telan semua omongan orang, baik buruk ataupun tidak, masukkan ke hati tanpa penyaringan satupun, niscaya tubuh kita akan merasa tidak enak bahkan sakit di bagian tubuh tertentu.

#Buktikan saja semisal: sentuh semua hal-hal yang beracun, yang dilarang agama, hal-hal yang diluar batas kewajaran (panas/ dingin/ membahayakan), niscaya kulit dan beberapa bagian tubuh kita akan merasakan tidak enak atau bahkan sakit di kemudian waktu.

#Buktikan saja semisal: umbar bicara kita tanpa filter kata-kata baik, yang keluar hanya kata-kata negatif, benci, amarah, dan lain-lain negatif, niscaya beberapa bagian tubuh kita akan merasakan tidak enak atau bahkan sakit di kemudian waktu.

dan lain sebagainya.....

Mengapa kita merasa tidak enak, tidak nyaman, bahkan sakit beberapa bagian tubuh kita saat itu atau di kemudian waktu? tidak lain dan tidak bukan karena kita telah meletakkan akal, fikiran dan sanubari kita jauh di bawah telapak kaki kita dan nafsu terumbar bebas tanpa sekat pengendali seluruh pancaindera kita.

Sejauh pengalaman saya selama ini, dari desa hingga perkotaan, dari masyarakat berbagai golongan, baik muda/ tua, baik pria/ wanita, atau yang dianggap masyarakat pinggiran hingga masyarakat elit sekalipun, hal-hal di atas menjadi faktor utama ada tidaknya penyakit itu hinggap di tubuh seorang manusia tanpa pandang bulu.

Akal fikiran dan sanubari adalah kontrol nafsu atas seluruh pancaindera manusia. Untuk bisa lepas dari sebuah penyakit ganas sekalipun maka akal fikiran yang dituangkan dalam bentuk ikhtiar (usaha) yang didasarkan sanubari (petunjuk Tuhan Yang Maha Kuasa), sehingga melahirkan kontroling nafsu adalah kunci kesembuhan sebuah penyakit ganas sekalipun.
Jika akal fikiran dan sanubari ini dialiri oleh Dzat Tuhan Yang Maha Dashyat, maka manusia akan memiliki kesadaran diri atas nafsu selama ini sehingga mampu untuk instropeksi diri dan memiliki kontrol penuh atas nafsu itu sendiri.

Karena itulah kesembuhan itu datangnya dari sisi Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia hanya diharuskan mengkondisikan dirinya untuk sepenuhnya paham akan akal, fikiran, nafsu, dan sanubarinya untuk selalu dekat dengan Dzat-Nya Yang Maha Agung, karena segala sesuatu yang berlebihan itu sungguh tidak baik.
Saya masih belajar dan belum tentu benar, karena itu mohon maaf jika ada kekeliruan dari semua postingan saya di atas jika kurang berkenan, karena hanya Tuhan Yang Maha Kuasa sumber kebenaran itu sendiri.

 
Fitrullah
Global Society Care
www.fitrullah.com



JANGAN MUDAH BERPUTUS ASA, SESUNGGUHNYA ALLAH SWT ITU MAHA KUASA.

Dalam perjalanan hidup saya selama ini, di  manapun kita berada dan bernafas, maka jika kita meyakini sepenuh hati bahwa Allah SWT itu ada dengan segala Kekuasaan-Nya.

Dengan METODOLOGI ILMU PENGETAHUAN SYARAF atas ijin-Nya jua, maka segalanya mungkin saja terjadi. Tanpa ijin-Nya maka semua tidak mungkin terjadi.

Maha Besar Allah atas segala Kuasa-Nya.

fitrullah
Global Society Care

Catatan:
#diposting sebagai motivasi untuk kita semua bahwasanya Allah SWT itu Maha Segalanya. Dengan iringan doa yang tiada putusnya, maka manusia wajib ber-ikhtiar seoptimal mungkin, pantang putus asa, mau melakukan instropeksi diri atas segala dosa yang dilakukan dengan setulus-tulusnya.
Tiada satupun manusia di dunia ini yang sempurna, karena manusia itu penuh dengan khilaf dan dosa selama hidupnya. Maha Besar Allah dengan segala firman-Nya.

#Sesungguhnya penyakit itu diujikan pada setiap insan manusia tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk menjadikan manusia tersebut menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya.

#Mari kita ringankan suka duka saudara kita dengan apa yang bisa kita lakukan masing-masing, seoptimal kita bisa lakukan, tanpa mempedulikan suku, agama, ras, dan golongan, secara tulus ikhlas.

Atas ridho Allah SWT, Kupersembahkan Kembali ini semua untuk-Mu semata.


#Manusia terlahir di dunia agar memiliki manfaat bagi kehidupan.
#Manusia menghirup udara di dunia tak lebih selain untuk beribadah kepada-Nya.
#Menggunakan akal fikiran dan nurani hanya untuk bisa berbuat terbaik bagi kehidupan, itu mutlak.
#Lakukan saja sebisa kita, setulus kita, semampu kita untuk memberi manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
#Langkah satu detik ini dapat membuka sejuta langkah ke depan,
karena itu Lakukan saja asal bermanfaat semampu kita.
#Aku pun masih belajar kehidupan, dan belajar itu tiada pernah berakhir, agar seoptimal mungkin memahami kewajibanku di dunia ini atas ridho Allah SWT.

FITRULLAH

Global Society Care (asam urat): Akhirnya Kadar Asam Urat yang Bertahan di area 10 pun menuju Normal!

Seseorang anggota masyarakat sebut mr GY bercerita padaku tentang masalah asam uratnya yang bertengger di angka 10. Akibat keadaan ini, bertahun-tahun dia mengalami bengkak di kaki dan beberapa bagian tubuhnya, juga rasa sakit.

Setelah kuberi saran, akhirnya kadar asam urat mr GY berangsur turun menjadi sekitar 8 minggu lalu dan sekitar 6 untuk kemarin.
Mr GY pun merasa membaik dari bengkak dan rasa sakitnya selama ini.

Semoga mr GY menuju kesembuhan ke depan atas ridho Tuhan Yang Maha Kuasa.

FITRULLAH
Global Society Care

Global Society Care: Kesembuhan itu dari sisi-Nya dan atas Karunia-Nya pula Kesembuhan itu dapat terjadi meski misal Penyakit itu dikenal Tiada Obat Sekalipun.


 Dudukkan dulu permasalahan. Buka hati kita dan jujurlah pada diri sendiri, apa diri kita ingin sembuh atau tidak. Sampai di titik ini pun belum cukup, karena akan diuji atas keridhoan Allah SWT.

Banyak anggota masyarakat yang berusaha saya sadarkan bahwa sembuh bukanlah tujuan utama dari ujian penyakit yang diberikan Allah padanya. Ada tujuan Allah yang jauh lebih besar selain daripada sembuh, yaitu SEBUAH PROSES UNTUK MERUBAH DIRI MENJADI LEBIH BAIK.
Sepengalaman saya dalam membantu masyarakat yang tersebar seluruh Indonesia, masyarakat cenderung memiliki tujuan sembuh semata tapi melenakan INSTROPEKSI DIRI MENJADI LEBIH BAIK.
Sungguh Allah tiada pernah salah dalam memberi ujian penyakit atas tiap insan yang dikehendaki-Nya, dan saya pun melihat selalu ada yang salah di tiap individu penderita sakit. Hal itu bisa dari sikap berlebihan atas konsumsi makanan, gaya hidup berlebihan, sikap sombong, pembenci, dan lain sebagainya.

Tiada ilmu pengobatan yang sempurna di muka bumi ini, karena semua ilmu pengobatan hanyalah sebatas sarana. Ilmu herbal dan sejenisnya pun demikian, tiada yang sempurna. Jadi jika ada kesombongan, angkuh tanpa menundukkan diri atas ridho Allah SWT dalam proses penyembuhan penyakit, itu sama saja tidak menyadari arti penyakit yang ditimpakan atas insan bersangkutan.
Jangan percaya saya tapi telaah seluruh perkataan saya untuk dapat keluar dari penyakit ini, karena yang paling benar adalah segala sesuatu yang berasal dari sisi-Nya, Tuhan Semesta Alam.

Manusia itu banyak salah dan dosanya, jadi jika sebuah pengobatan itu melalui perarntara seorang manusia maka seharusnya jiwa hatinya haruslah bersih dari sifat-sifat penguasaan materi duniawi. Tidak boleh seorang manusia satupun yang menjanjikan sembuh, karena sejatinya manusia itu tugasnya hanyalah berusaha sedang perkara hasil itu menjadi hak prerogatif Tuhan, bukan rana manusia. 
Kesembuhan itu dari sisi-Nya dan atas karunia-Nya pula kesembuhan itu dapat terjadi meski misal penyakit itu dikenal tiada obat sekalipun. Tiada yang tidak mungkin bagi Allah jika sudah berkehendak. Nah di sinilah manusia diuji saat Allah berkehendak, apakah manusia tersebut memiliki kehendak (nafsu) berlebihan atas kemampuan pengobatan? Jika ini terjadi, maka kehendak Allah yang Maha Suci tidak akan pernah mengalir ke hati sanubari manusia yang penuh nafsu tersebut. Karena itulah instropeksi diri itu menjadi utama, setulus-tulusnya, dan totalitas untuk berubah menjadi jauh lebih baik.

Bersabarlah atas ujian penyakit yang dihadapi. Pandang ujian tersebut dengan kasih sayang bahwa Allah masih memiliki sayang pada diri kita. Sesungguhnya perubahan jiwa sanubari adalah yang utama dalam proses kehidupan di muka bumi ini. 
Itulah yang selalu kukatakan kepada siapapun penderita sakit yang menemuiku untuk berdiskusi solusi kesembuhan : Peganglah Tuhan Semesta Alam, tiada yang lain.


FITRULLAH
Global Society Care

IDE SAYA: PROGRAM OPTIMALISASI PEKARANGAN untuk Efisiensi Kebutuhan Hidup Sehari-hari dengan RISET

#Program_optimalisasi_pekarangan_untuk_efisiensi_kebutuhan_hidup_sehari2_dengan_RISET



Meskipun saya ambil terus barusan untuk lalapan, sayur ini tidak pernah habis.
Saya bisa irit Rp 50.000,-/ hari.
Dengan optimalisasi halaman yg sempit, maka Rp 1,5 juta/bulan bisa diirit. Setahun irit Rp 18 juta!
Jika 3 tahun saja sudah irit Rp 54 juta.
Itu hebatnya manajemen riset.

#Anggap saja jumlah penduduk Indonesia 250 juta jiwa, ambil 1% saja misal 2,5 juta jiwa.
2,5 juta jiwa x Rp 18 juta/tahun = Rp 45.000.000.000.000,- (Rp 45 trilyun)/tahun.
Jadi kita hemat Rp 45 trilyun/tahun (untuk 1% penduduk Indonesia)!

***Nah, kuncinya adalah OPTIMALISASI PEKARANGAN untuk 1% total warganegara.
Nah agar optimal maka perlu riset agar bisa optimal untuk kebutuhan sehari2 (mencapai target irit Rp 50.000/hari).

Atau kita balik: Misal hasil keluarga per pekarangan itu dijadikan pangan lokal, maka Rp 45 trilyun/tahun akan beredar di masyarakat. LUARBIASA!

#Program_optimalisasi_pekarangan_untuk_efisiensi_kebutuhan_hidup_sehari2_dengan_RISET

HIDUP ITU BELAJAR: Dia pun berkata pada saya: “Saya sekarang sadar mas fitrul bahwa Allah melalui mas fit, sudah merubah hidup saya hingga saya sekarang ini merasa percaya diri dan berusaha untuk berbuat baik untuk diri saya, keluarga saya, dan masyarakat sekitar saya."

 #Ditulis sebagai pengingat saya pribadi (SelfReminder) untuk bisa terus instropeksi diri#

 (keterangan: gambar diambil dari kaskus, sebagai ilustrasi semata)

" Ya, saya ingat dia, seorang yang tidak begitu dipandang orang lain, orang pinggiran, kurang terdidik, bekas anak jalanan, namun menjelma menjadi sosok yang baik dan santun, sudah terangkat derajatnya dan mampu berkeluarga dan memiliki rumah."

=================================================================== 

Sering saya ditanya oleh beberapa orang: ” Apa masnya nggak khawatir jika tidak mendapat uang dari kegiatan membantu orang-orang tersebut? Kan secara fisik, fikiran, dan biaya sudah dikeluarkan untuk membantu mereka.
 
Saya pun menjawab: ” berarti Anda belum paham apa yang saya lakukan ini di www.fitrullah.com. Saya melakukan di www.fitrullah.com memang hanya ingin berbuat terbaik apa yang saya bisa, semampunya saya. Seluruh society care saya di www.fitrullah.com tidak pernah meminta apapun, karena biar Allah yang mengaturnya, tiada keraguan sedikitpun di hati saya akan hal itu, seikhlasnya, semampunya, tidak perlu memikirkan saya, karena saya melakukan itu semua hanya demi mengharap ridho-Nya semata, kewajiban saya untuk masyarakat dan bangsa saya. Jadi www.fitrullah.com adalah dedikasi saya untuk membantu semampu saya untuk masyarakat.
————————————————————————
“Jadi www.fitrullah.com adalah dedikasi saya untuk membantu semampu saya untuk masyarakat.”
————————————————————————
“Sudah banyak yang mengatakan bahwa apa yang saya lakukan seharusnya bernilai materi luarbiasa. Saya pun hanya tersenyum mendengarnya. Iya, saya paham itu, namun melihat mereka berjuang dan saat saya mendampingi agar mereka mampu keluar dari penderitaan sakitnya adalah kebahagiaan tersendiri bagi saya. Sering kok saya menginap hanya untuk menemani/ menjaga/ memberi semangat beliau-beliau agar tidak putus asa terhadap sakitnya.
Hujan, badai, petir menyambar di depan saya di tengah hujan pun sering saya lalui. Ya, saya bisa kuat karena saya merasa harus melakukan sesuatu untuk mereka yang membutuhkan. Jiwa saya merasa terpanggil untuk bisa berbuat seoptimal mungkin.”
 
Pernah suatu hari sepeda motor saya mogok di tengah jalan dan dengan terpaksa saya pun menuntunnya (tidak bisa saya utak utik lagi karena mogok total).
Anda tahu? tiba-tiba setelah menempuh 200 meter an, saya pun disapa oleh seseorang yang saya agak lupa. Orang itu pun menghampiri saya dan menawarkan untuk menuntun sepeda motor saya: “Biar saya yang mengurus sepeda motor mas fitrul, mas fitrul silahkan pakai sepeda motor saya ini.”
Saya pun menjawab: ” Lho, bagaimana Anda pulang ke rumah? nggak lah mas, biar saya sendiri yang tuntun sepeda saya hingga bertemu tukang service terdekat. Sudah gpp, sudah biasa, ini ujian saya”
Orang itu pun setengah memaksa dengan sopan pada saya, “Gak apa-apa mas fitrul, sudah, ini stnk saya, sepeda motor saya dipakai saja, biar jenengan nggak kecapaian, bisa pulang kembali ke rumah, karena masih banyak yang membutuhkan jenengan mas. Sudah jangan fikirkan saya mas”, katanya sambil tersenyum.
 
Ya, Allah, terharu saya mendengarnya, melihat dia bersedia dengan ikhlasnya menuntun sepeda motor saya hingga menemukan tukang service terdekat (entah berapa jauh jaraknya dari tempat kami bertemu tersebut, saya kurang begitu paham).
Ya, saya ingat dia, seorang yang tidak begitu dipandang orang lain, orang pinggiran, kurang terdidik, bekas anak jalanan, namun menjelma menjadi sosok yang baik dan santun, sudah terangkat derajatnya dan mampu berkeluarga dan memiliki rumah. Tidak saya sangka jika derajatnya diangkat Allah setelah pertemuan saya terakhir dahulu di saat dia bukanlah apa-apa.
Hal-hal seperti inilah yang membuat saya terkagum-kagum atas Kekuasaan Allah SWT hingga kini.
 
Dia pun berkata pada saya: “Saya sekarang sadar mas fitrul bahwa Allah melalui mas fit, sudah merubah hidup saya hingga saya sekarang ini merasa percaya diri dan berusaha untuk berbuat baik untuk diri saya, keluarga saya, dan masyarakat sekitar saya. Saya menuntun sepeda motor mas fit itu kebahagiaan saya yang mungkin tidak bisa membalas semuanya. Ayo mas, mampir ke rumah saya, makan di rumah saya, jenengan sudah menuntun jauh sekali dan butuh istirahat, monggo mas”.
 
Anda tahu, saya pun meneteskan air mata mendengar dan melihat ekspresi tulusnya. Ya, Allah, Engkau benar-benar Maha Besar, Maha Kuasa lagi Maha Penyayang.
 
Anda tahu? Hal-hal seperti di atas itulah yang membuat saya yakin bahwa jangan pernah Anda fikirkan materi atas semua tindakan Anda, yang penting bermanfaat untuk orang lain itu sudah cukup. Allah Maha Mengetahui kebutuhan kita, sudah ditakar Allah, hanya tinggal kita sendiri saja yang harus memahami Sunatullah-Nya atas seluruh kehidupan semesta alam.
 
#Bahwasanya Hidup itu adalah belajar dan terus belajar tentang kehidupan, tiada pernah berakhir meski mendekati kesempurnaan yang kita anggap sempurna. Mengapa? karena tiada kesempurnaan itu bisa melekat di diri manusia, hanya Allah SWT yang Maha Sempurna. Ya, Hanya DIA semata.
 
FITRULLAH
Global Society Care
 
(note: dialog di atas terkadang dalam bahasa Jawa dan saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia semirip mungkin yang saya ingat)