f11a4da3e827.html

df36a31bf43d
#USDIDRResearch #GlobalResearch #GlobalSocietyCare #SelfReminder

Ketik topik yang Anda cari di kotak pencarian di bawah ini (www.fitrullah.com)

USDIDR and Other Currency Research (untuk Keseimbangan Sektor Riil dan Non Riil)

"JIKA"Janji Seribu Janji Terucap.

Yang seolah-olah Nyata itu akan Semu jika Sudah mendapatkan Keinginannya dan Melupakan janjinya pada Nuraninya. Di situ aku Banyak Belajar Hidup.

"Percayalah mas fit, jika saya sembuh maka saya akan menyumbangkan pada Yatim Piatu dan sejenisnya minimal separuh dari uang yang seyogyanya saya gunakan untuk operasi ini." Aku hanya tersenyum.

"Iya, mudah-mudahan saya dapat memberikan 10% dari pendapatan saya untuk kemanusiaan sesuai ridho-Nya, jika saya berhasil mendapatkan penghasilan dari usaha saya ini". Aku juga hanya tersenyum.

"Saya akan banyak membantu masyarakat sesuai saran mas fit, jika saya diajari ilmu syaraf". Sekali lagi aku pun tersenyum

"Saya akan membahagiakan suami saya, dan akan berusaha menerima dia (suami saya) dengan segala kekurangannya, jika saya mulai sembuh dari penyakit ini". Aku tetap tersenyum.

dan lain sebagainya....

Janji seribu janji terucap.
Demi sebuah tujuan yang seolah mulia.
Tatkala semua terengkuh di tangan,
di situlah lupa dipuja.
Sesungguhnya tujuan itu bukan bisnis dengan Sang Pencipta.
Tujuan adalah sebuah ujian dan bukan sebuah ikatan sebab akibat dari ujian itu sendiri.
Tugasku hanya mengingatkan di awal bahwa: Janji adalah tanggungjawab diri sendiri pada Yang Maha Kuasa. Percayalah bahwa untuk mencapai suatu tujuan yang diawali dengan kata "JIKA" maka peluang untuk terlaksananya janji itu sangat minim. Itu yang sering kutemui.

Karena itu, sebuah parameter yang baik adalah instropeksi diri atas setiap ujian pada diri masing-masing, Tiada manusia sempurna satupun, karena manusia penuh dengan khilaf. Karena itu jika sebuah ujian itu datang dari sisi-Nya, berarti Tuhan ingin membuat seseorang itu menjadi lebih sempurna dari sebelumnya. Jika di saat ujian itu datang dan diri terlanjur berjanji untuk bisa keluar dari ujian-Nya, maka manusia tersebut sama sekali belum menyadari hakekat Pencipta dan yang dicipta. Belum menyadari ridho Pencipta atas yang dicipta. Belum menyadari Kekuasaan Pencipta atas yang dicipta, dan juga belum menyadari Proses dari Pencipta untuk yang dicipta.

Sesungguhnya ujian itu adalah proses untuk menyempurnakan zat asal. Tiada mungkin segenggam padi akan protes saat dipukul-pukul ke alu dan berjanji akan menjadi lebih baik jika tidak dipukul-pukul di alu. Tiada mungkin sebutir beras itu berjanji untuk menjadi beras yang baik jika behasil keluar dari godokan beras di atas bara api. Dan tiada mungkin sebilah besi akan berjanji menjadi besi yang baik jika dapat keluar dari pukulan bara api sang pandai besi...

Ya, janji itu adalah sebuah fatamorgana jika tanpa kesadaran ridho-Nya. Sebuah ungkapan sesaat saat ujian itu didapat. Untuk menjadi sebutir beras yang bagus, segenggam padi haruslah dipukul-pukul ke alu dan ini sakitnya luarbiasa. Untuk menjadi nasi yang baik, maka beras pun harus melalui proses didih yang menyakitkan. Begitu juga besi yang ditempa seorang pandai besi untuk bisa menjadi senjata yang mashyur.

Semua sudah ada ketentuan-Nya dalam setiap ujian yang diterima. Kesadaran diri atas ujian tersebut dan selalu memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala iradat-Nya adalah yang terpenting. Bersyukur atas segala ujian yang datang dan biarlah Tuhan sendiri yang akan memutuskan akhir dari ujian tersebut. Rasa syukur itulah yang akan membuahkan kebaikan bagi diri sendiri dan untuk alam secara umum. Wallahu alam.

FITRULLAH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar