f11a4da3e827.html

df36a31bf43d

Global Society Care, Society Edu, and Environment Edu

(Global Society Care, Society Edu, and Environment Edu)

"JAGALAH KERUKUNAN, KEBERAGAMAN, KESATUAN DAN PERSATUAN BANGSA INDONESIA, DIMANAPUN BUMI DIPIJAK."



Ketik topik yang Anda cari di kotak pencarian di bawah ini (www.fitrullah.com)

USDIDR and Other Currency Research (untuk Keseimbangan Sektor Riil dan Non Riil)

RISET SINGKONG ORGANIK (FITS): 3 bulan sudah panen!

Singkong jika diriset maka percepatan tumbuh cepat dan sangat baik akan terjadi!

Hasil riset (ujicoba) singkong ini:
1). Waktu panen jauh lebih cepat yaitu sekitar 3 bulan saja, bukan 7 bulan waktu normalnya.
2). Perebusan di air mendidih hanya butuh 2 menit! Sehingga sangat efisien dalam bahan bakar/ pengolahan,
3). Tekstur singkong sangat lunak/ lembut
4). Dijamin 100% organik sejak dari awal penanaman hingga selama proses pertumbuhan.
5). Karena 100% organik maka dijamin sehat.

FITRULLAH
Global Researcher

Santun itu harus Lengkap dalam Niat, Kata, Sikap, dan Perbuatan.

Manusia itu sama saja, bergantung orangnya ngerti ajaran agama atau tidak. Orang jahat tapi santun ada, orang jahat yang kasar juga ada, orang santun yang baik ada, orang santun yang tidak bisa apa2 ada,  dll macam orang.

Hafalan ajaran agama dengan ngerti ajaran agama itu beda. Santun itu harus lengkap dalam niat, kata, sikap, dan perbuatan. Nah, tegas dalam menegakkan yang benar, memilah yg benar-salah itu juga termasuk santun perbuatan. Meski sudah santun perbuatan tapi masih kurang dalam santun berkata, juga kurang pas, begitu juga sebaliknya. Karena itu dibutuhkan kerelaan untuk sering meminta maaf jika keliru dan harus mau dikoreksi orang lain. Ini ciri orang berjiwa besar dan hati2.

Banyak bicara itu mudah namun banyak mendengar itu sulit.

FITRULLAH
Global researcher

ORANG LUGU YANG HARUS DISELAMATKAN DARI SERIGALA-SERIGALA LICIK DI SEPANJANG HIDUPNYA.


Dulu saya pernah bertemu dengan seseorang, sebut saja XY.
XY sosok yang sangat positif terhadap siapapun  meski orang-orang di sekitarnya memiliki sikap2 licik dan jahat terhadapnya.
Prinsip XY adalah jika kita berfikir dan bersikap positif terhadap siapapun, pasti Tuhan akan memberi energi positif yang melindungi XY dan merubah orang-orang licik dan jahat selama hidupnya.
Ya, sangat kuat prinsip itu melekat pada citra wataknya.
Saya pun tersenyum sambil berkata padanya: "Suatu saat dirimu akan paham bagaimana menempatkan diri, menggunakan akal fikirmu, dan bertindak agar dirimu selamat dari orang-orang licik jahat yang terpendam tanpa dirimu ketahui sebelumnya. Ilmumu akan bertambah kelak".

Saya ikuti terus perjalanan hidupnya dan kudapati suatu saat XY ini merenung sambil bersedih: " Mengapa orang-orang di depanku sering memiliki niat licik dan jahat di belakang, yang mana itu tidak pernah tampak dari sikap perbuatan sehari-hari? Begitu teganya mereka padaku?".

Saya mencoba menghibur: " Itulah manusia saudaraku XY. Prinsip hidupmu itu negatif/ positif side, bukan Zero (nol) Side. Jika seseorang menempatkan dirinya di sisi positif maka selamanya dia tak akan pernah memahami sisi negatif manusia, begitu pula sebaliknya. Ada kebaikan dan keburukan yang akan selalu berdampingan sampai kapanpun. Akan selalu ada 2 hal berbeda yang akan selalu berdampingan hingga kapanpun. Seorang manusia akan mampu memahami sekaligus bersikap dan bertindak tepat jika dia mampu menempatkan diri di Zona Zero (Nol). Di Zona Zero ini, manusia tanpa muatan baik dari dalam dirinya maupun dari luar. Energinya bersih, cemerlang, laksana cermin.
Selalu berfikir positif/ negatif saja terhadap makhluk Allah itu adalah sikap berlebihan karena mengedepankan ego manusia atas pilihan sikapnya, dan itu bukan manusia.
Bahwasanya manusia itu dianugerahi akal fikiran dan budi, adalah untuk mampu merenungi atas seluruh kejadian yang menimpanya, bukan malah mengedepankan keharusan untuk menentukan sikap fikiran positif/ negatif saja.
Sikapmu selama ini yang selalu berfikir positif terhadap orang lain adalah baik namun keliru dari niat. Niatmu bukan atas Allah namun berdasar toleransimu, sungkanmu terhadap manusia di depanmu. Ada orang baik juga ada orang jahat, itu sudah pasti. Kepastian sunatullah ini kamu abaikan dengan dalih pokoknya jika saya berfikir positif maka semua akan positif di sekitarmu. Seluruh manusia itu ibarat menapak Siratal Mustakim, yang diberi jalan sangat tajam sehingga butuh kehati-hatian, waspada dalam hidupnya. Jika berjalan di atas titian Siratal Mustakim saja dirimu mengabaikan kewaspadaan atas kanan dan kiri, niscaya dirimu akan tergelincir. Itulah hidup dan tidak ada enaknya hidup di dunia itu.

Jika dirimu menganggap enak hidup di dunia itu, berarti ada kesombongan pada dirimu. Ada hujan, manusia mengeluh banjir, bocor, gagal panen dll. Ada kemarau pun juga sama, mengeluh panas, kekurangan air, dll. Satu kejadian itu saja sudah menunjukkan bahwa tidak mudah hidup di dunia ini. Jadi jangan anggap enteng semua kejadian selama hidup kita.
Yang harus manusia lakukan adalah merenung sehingga menimbulkan rasa syukur atas dua hal berbeda yang selalu berdampingan di dunia ini. Syukuri hujan-kemarau, suami-istri, baik-buruk, dll. Jika diri sudah paham itu, maka gunakan akal fikir budimu untuk memanajemen dua hal perbedaan tersebut atas ridho Allah SWT. Ini memang sulit, namun kita harus sama-sama belajar untuk lebih memahami masing-masing sisi yang berbeda sehingga diri kita mampu berjalan tegak di atas jalan Kalimatullah."


FITRULLAH
Global Researcher

Note: gambar diambil dari internet dan bersifat ilustrasi semata

The Lesson

If God is moving, So no possible throughout the word, There is no heart could not be touched, At an earthshaking event that night. Thin boundary catastrophe and grace, That's where the Lord plain warned, About the origin, About sublime lesson, From him who I respect all my soul. if I'm wrong in the Lesson,
Then the tears continuing to happen, But the God is the Supreme, Loving to me every time

Yes, this is where God shows That God who became Determinants, Not a single human being. Be thankful itself on natural word that night.

(FITRULLAH, Global Researcher)