f11a4da3e827.html

df36a31bf43d

Global Society Care, Society Edu, and Environment Edu

(Global Society Care, Society Edu, and Environment Edu)

"JAGALAH KERUKUNAN, KEBERAGAMAN, KESATUAN DAN PERSATUAN BANGSA INDONESIA, DIMANAPUN BUMI DIPIJAK."



Ketik topik yang Anda cari di kotak pencarian di bawah ini (www.fitrullah.com)

USDIDR and Other Currency Research (untuk Keseimbangan Sektor Riil dan Non Riil)

KEARIFAN SEJATI adalah MEDIA PENYAMPAIAN KEBENARAN SEJATI dari OLAH BANYAK MENDENGAR



Jangan terlena dengan yang ada. Kelak semua akan terjawab seiring berjalannya waktu, tentang kebenaran, tentang keadilan, dan tentang kearifan dalam hidup.
Mendengar itu ilmu yang sungguh sulit dibanding berbicara, karena mendengar membutuhkan pengendalian nafsu pembenaran diri sendiri.

Ya, benar pesan Beliau yang kuhormati nun jauh di sana tentang Mendengar. Bahwasanya mendengar adalah sebuah riset kehidupan yang harus dilalui.
Adanya perbedaan di semua lini kehidupan manusia, dengan beragam ujian masing-masing, karakter dan sifatnya, juga kehidupan yang dilaluinya masing-masing manusia, maka Mendengar adalah sebuah kata yang sungguh bermakna.

Kebenaran sejati itu memang ada, yang hanya diketahui oleh Dzat-Nya Yang Maha Tinggi.
Jikalau kebenaran sejati ini turun pada hamba-Nya yang diridhoi-Nya, maka kebenaran sejati ini akan mampu merangkul semua lini perbedaan yang ada di masyarakat, dengan cara kearifan, kebijaksanaan, dan kesabaran.

Berbicara kebenaran pun sering kandas di tengah jalan. Karena apa? karena tidak sinkron dengan kemajemukan masyarakat yang ada. Di sinilah pentingnya Mendengar.
Dengan banyak mendengar, maka akal fikir kita sebagai perantara penyampai kebenaran sejati itu akan mampu ditempatkan sesuai porsinya pada masing-masing masyarakat, sesuai kadar kesesuaiannya.
Dengan banyak mendengar, maka kita akan semakin arif dalam penyampaian kebenaran, dapat memasuki lini kisi-kisi sifat dan karakter masyarakat yang beragam.

Karena itulah pentingnya sebuah proses penyampaian, dengan kesabaran, pelan namun pasti, sesuai porsinya. Dengan demikian, maka kebenaran yang disampaikan akan mampu masuk ke segenap lini sendi-sendi kehidupan masyarakat yang beraneka ragam ini.

Meskipun kita mengetahui kebenaran sejati dari satu sisi, namun sangat penting untuk mendengar kebenaran dari sisi yang lain. Kebenaran itu bergantung dari sudut mana kita melihat, menilai, dan merasakan.
Cobalah memahami ini: " Belajarlah banyak mendengar agar kita mampu belajar arif dan dapat memberi hikmah kehidupan yang hakiki. Kurangi banyak bicara, kendalikan banyak bicara, belajarlah untuk banyak mendengar. Jika ini kau lakukan niscaya dirimu akan memahami sebuah makna arif bijaksana dalam penyampaian kebenaran. Saya dan Anda, sama-sama belajar, agar terbentuk kehidupan masyarakat yang harmonis dan saling menghargai perbedaan pendapat. Kebenaran sejati tidak akan berarti secara rahmatan lil alamin, jika penyampaian kebenaran itu bukanlah hasil dari resultan banyak mendengar, karena sesungguhnya penyampaian sebuah kebenaran sejati itu adalah melalui kearifan sejati pula. Kearifan sejati itu haruslah melalui proses banyak mendengar sehingga seseorang tersebut dapat menyampaikan sebuah kebenaran sejati ".

(Fitrullah, www.fitrullah.com, 25 Oktober 2016)


(Keterangan: Gambar diambil dari http://lab-itc.com/wp-content/uploads/2016/05/sudut-pandang.jpg, sebagai ilustrasi semata)

ANTARA PENYAKIT DAN UJIAN TUHAN

Sering orang itu tidak menyadari mengapa penyakit hinggap pada diri/ keluarganya dan menjadikan sebab terjadinya penyakit tersebut sebagai pelampiasan kesalahan terhadap orang lain. Memang di saat menderita sakit, dapat dipastikan orang seolah-olah menyadari bahwa penyakit ini ujian Tuhan padanya, namun banyak yang tidak menyadari bahwa hasil ujian tersebut baru bisa dikatakan berhasil paska sembuhnya dia dari penyakit.

Jika orang yang sudah sembuh tersebut tidak berubah perangainya menuju kebaikan, dapat dipastikan dia gagal dalam ujian-Nya atas penyakit. Artinya, orang tersebut pasti masih menjadikan penyakit sebagai benda mati/ obyek pelampiasan kesalahan sehingga orang tersebut tidak bisa terus mengumbar hawa nafsunya selama sebelum sakit.

Namun beruntunglah orang yang sudah sembuh dari sakit dan sudi mengkoreksi seluruh sifat perbuatannya yang menyebabkan dia sakit, maka berhasilah dia melewati ujian Tuhan atas penyakit yang dianugerahkan-Nya pada orang tersebut.
Tuhan itu tidak serta merta menurunkan penyakit tanpa sebab, karena selalu ada sebab musababnya. Sifat perbuatan yang berlebihan cenderung menjadi faktor utama penyebab sakitnya seseorang. Nah, untuk mengingatkan seorang manusia agar tidak berlebihan, maka Tuhan memberi anugerah penyakit pada orang tersebut. Itu cinta kasih Tuhan pada umat-Nya.

Riset kerohanian itulah yang kudalami, untuk lebih mengenal kehidupan ini, dengan aneka ragam karunia-Nya. Kesimpulan dari itu adalah jangan berlebih-lebihan dalam segalanya, sewajarnya saja. Semangat dan etos kerja keras mutlak, namun kerendahan hati dalam melihat seluruh kejadian di alam mayapada ini sudah seharusnya ditanamkan sedini mungkin. Wallahu alam.

FITRULLAH

TANAH dan MANUSIA


Mengenal, mencoba memahami alam adalah sebuah proses belajar hidup. Manusia berasal dari tanah maka sudah sewajarnya harus mengenal tanah, saudara asalnya. Jika cara kerja tanah tidak paham, maka wajar jika cara kerja tubuh manusia juga tidak paham.
Ibarat menginginkan buah dari tanah, maka proses tanah menghidupi tanaman harus dipahami. Itulah tubuh kita. Jika menginginkan sehat jasmani dan rohani, harus mengenal cara kerja tubuh kita. Tubuh kita berasal dari tanah dan proses "otopsi" tanah (memilah dan mempelajari tanah) adalah cara mempelajari tubuh manusia secara hakiki.

Hasil pembelajaran seorang manusia akan tanah bisa dilihat dari cara manusia tersebut memperlakukan tanah. Jika tanah menangis, marah, sedih karena mulai tidak berfungsi/ rusak, maka disitulah cerminan manusianya.

Jika tanah sudah meratap dan menangis, bisakah tanah akan menerima manusia jika sudah kembali ke tanah kelak?
Itulah fungsi rahmatan lil alamin. Manusia wajib memberi rahmat sekalian alam, termasuk tanah di dalamnya.

Di dalam tanah terkandung milyaran mineral dan nutrisi, berikut sumber dayanya yang maha dashyat dalam menopang kehidupan seluruh makhluk di dunia ini.
Jika tanah yang sebagai zat asal muasal manusia saja sudah memiliki fitrah seperti demikian, maka dimanakah fungsi manusia sebagai rahmatan lil alamin, yang jelas-jelas satu asal muasal?

Diciptakan-Nya tanah adalah sebagai salah satu pemikiran dan pembelajaran rahmatan lil alamin seorang manusia.

FITRULLAH

Sulit menjadi Cermin Datar yang Bersih


Yang saya paham bahwa orang sombong akan menemui resultan kesombongannya cepat atau lambat. Ada aksi pasti ada reaksi, itu hukum sains. Jika kesombongan dilontarkan ke dimensi tak rata/ lunak/ tidak beraturan, mungkin kesombongan itu akan terserap ke dalam dimensi tak rata/ lunak/ tidak beraturan tersebut. Namun jika kesombongan itu dilontarkan ke dimensi cermin datar yang bersih, maka pantulannya akan luarbiasa kembali pada asal kesombongan itu. Menyadarkan orang-orang sombong itu harus memiliki sifat cermin datar yang bersih tersebut.
Coba saja lontarkan seluruh kesombonganmu di depan cermin datar yang bersih, apa yang kamu lihat? Semakin lama dirimu melontarkan kesombongan di depan cermin datar yang bersih, niscaya dirimu akan berhenti dengan sendirinya karena akan merasa malu terhadap apa yang terlihat di cermin datar yang bersih tersebut.

Sulit menjadi cermin datar yang bersih, karena itu hanya sedikit manusia yang mampu menjadi cermin datar yang bersih.
Manusia seolah-olah menjadi cermin datar yang bersih, namun itu akan dibuktikan seiring berjalannya waktu atas sifat, sikap, dan perbuatan sehari-harinya.

Tugas manusia di dunia hanyalah saling mengingatkan atas rahmatan lil alamin, bukan saling memvonis, karena kebenaran sejati itu datangnya dari sisi Tuhan Yang Maha Esa.


FITRULLAH, ST

Note: Foto diambil dari http://statis.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2013/10/manusia-kayu-bercermin-330x263.jpg, sebagai ilustrasi semata